
CITY GUIDE FM, KOTA BATU – Dinas Kesehatan Kota Batu terus waspada terhadap penyebaran penyakit campak menyusul ditemukannya enam kasus campak dan satu kasus rubela dari total 120 kasus suspek yang ditemukan sepanjang tahun 2025. Seluruh sampel suspek tersebut merupakan hasil pemeriksaan di Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Surabaya.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Batu dr Susana Indahwati mengatakan temuan tersebut menjadi perhatian serius karena campak merupakan penyakit infeksius yang sangat mudah menular.
“Campak ini penularannya sangat cepat. Dari satu orang bisa menular ke banyak orang di sekitarnya, terutama di lingkungan sekolah atau pada kerumunan anak-anak,” ujar Susana.
Baca juga:
Ia menjelaskan, peningkatan kasus campak dipengaruhi oleh sejumlah faktor. Salah satunya adalah penurunan cakupan imunisasi anak yang terjadi sejak pandemi COVID-19. Banyak anak tidak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal, sehingga berisiko tertular penyakit yang sebenarnya dapat dicegah tersebut.
Faktor lain adalah rendahnya kekebalan komunitas atau herd immunity. Menurut Susana, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan cakupan imunisasi minimal 95 persen untuk mencegah penularan campak dan rubela.
Namun, di sejumlah wilayah, cakupan imunisasi dosis kedua vaksin Measles Rubella (MR) masih berada di bawah target. Selain itu, tingginya mobilitas dan aktivitas anak-anak di lingkungan sekolah maupun ruang publik juga mempercepat penyebaran virus, terutama jika perlindungan imunisasi belum optimal.
Menyikapi kondisi tersebut, Dinkes Kota Batu mengimbau masyarakat untuk lebih waspada dan berperan aktif dalam upaya pencegahan. Walaupun di Kota Batu sendiri belum ada kasus meninggal dunia.
Langkah utama yang ditekankan adalah memastikan anak mendapatkan imunisasi lengkap sesuai jadwal. Vaksin MR merupakan tindakan pencegahan paling efektif terhadap campak dan rubela.
Reporter: Asrur Rodzi
Editor: Intan Refa




