
CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Sebelum terjun ke olahraga kriket, Aditya Diana Putra sudah lebih dulu aktif di olahraga sepak bola. Tapi barangkali karena sepak bola sudah terlalu umum, Adit mencoba menantang diri sendiri untuk belajar olahraga lain.
Pilihannya akhirnya jatuh pada kriket atas saran dari dosennya. Kebetulan Adit waktu itu, sekitar tahun 2021, masih berstatus mahasiswa program studi Pendidikan Kepelatihan Olahraga (PKO) di Universitas Negeri Malang. Sejak saat itu, ia mulai giat berlatih untuk semakin mengenal seluk beluk olahraga ini.
“Saya waktu itu mikirnya cuman, apa ini olahraga kriket? Mukul terus lari lempar, kayak olahraga kasti,” ungkapnya.
Kendati baru belajar, Adit sudah cukup percaya diri untuk ikut seleksi. Salah satunya penjaringan atlet Kejurprov di Situbondo.
“Kebetulan saya terpilih, tapi tidak lolos pada saat pengumuman jadi saya gagal. Tapi saya ngga stop gitu aja. Ada lagi setelah itu event di Jatim persiapan Kejurnas di Cibubur. Saya diajak temen saya yang pernah lolos Kejurprov untuk ikut seleksi. Itu saya juga ga lolos,” ceritanya.
Setelah berulangkali gagal, perlahan tapi pasti Adit mulai unjuk gigi. Ia dan tim berhasil meraih juara tiga Pra-Porprov di Situbondo tahun 2023. Lalu ia juga sempat mengikuti babak kualifikasi Pekan Olahraga Nasional (PON) Aceh dan Sumut, namun ia gagal.
Langkahnya terus berlanjut di Kejurnas Cricket di Cibubur dan mendapatkan juara 2 pada nomor 6’S. Selanjutnya pada Porprov IX Jawa Timur 2025, tim cricket putra Kota Malang sukses mengoleksi 3 medali emas pada nomor T10, 6’S dan Last Man Standing dan 1 perak pada nomor T20.
Sebetulnya, saat sedang rajin-rajinnya latihan, ada satu kendala yang cukup krusial yaitu keterbatasan sarana dan prasarana. Olahraga ini perlu lapangan yang luas untuk pantulan bola. Sementara saat ini, ia dan kawan-kawannya hanya bisa memanfaatkan lapangan-lapangan kecil untuk latihan.
Begitu pula dengan peralatan. Kata Adit, di kampusnya sebenarnya sudah memiliki beberapa peralatan olahraga kriket, hanya saja belum cukup lengkap.
“Jadi selain keterampilan teknik, ada keterampilan fisik juga dan mental. Fisik saja tidak cukup, tapi semua aspek dalam latihan itu harus kita kuasai. Teknik, fisik, taktik dan mental harus berkesinambungan, menyatu,” terangnya.
Olahraga ini sarat dengan strategi. Bagaimana saat batting, bowling dan fielding itu dapat mematikan atau mempersulit lawan. Kuncinya adalah pada repetisi atau dalam hal ini adalah drill. Saat berlatih, pemain harus memukul dan melempar bola sebanyak-banyaknya dengan tepat.
Bagi Adit, jatuh bangun, gagal dan berhasil dalam sebuah pertandingan itu mampu menempa mentalnya menjadi lebih tahan banting. (adv)
Editor: Intan Refa




