
CITY GUIDE FM, KOTA MALANG – Bagi Mochamad Kamil Jubair, bela diri taekwondo telah berhasil mengubah citra dirinya menjadi jauh lebih baik. Pemuda berusia 18 tahun ini bercerita, dulu saat masih duduk di bangku SD, ia sempat merasa minder karena dibully oleh kawan-kawannya lantaran postur tubuhnya yang gemuk.
Tidak ingin perasaan rendah diri tersebut terus menguasainya, Kamil akhirnya nekat bergabung di club taekwondo.
“Waktu ikut taekwondo, jadi ga ada yang bully, temen makin banyak, terus tambah tinggi, tambah ganteng juga saya,” katanya sambal tergelak.
Menurutnya, perubahan postur tubuhnya itulah yang tampaknya membuat kawan-kawannya jadi segan. Apalagi, ia jadi salah satu atlet yang cukup rajin ikut turnamen. Total sudah ada 30 medali yang bertengger di rumahnya.
Tentu tidak mudah bagi Kamil untuk langsung mampu mahir menguasai teknik-teknik dasar seperti split maupun tendangan. Sejak kelas 5 SD sampai kelas 1 SMA, Kamil baru berhasil menguasai teknik-teknik dasar. Walaupun begitu, Kamil tak pantang menyerah dan memaksa dirinya untuk rajin mengikuti ajang pertandingan.
“Ikut kejuaraan dulu Kejurprov tahun 2018 di Surabaya, dapat emas kategori pemula under 40. Tapi awalnya pas SD itu saya ikut kejuaraan pemula 2 kali juara 1. Pas SD pernah ikut kejuaraan internasional di Bali, juara 2. Habis itu saya ga pernah menang sampai kelas 1 SMA. Pas kelas 2 SMA baru saya bisa menang juara 1,” terangnya.
Beberapa kekalahan yang Kamil alami sebelum berada di posisi puncak karena postur tubuhnya yang saat itu tidak setinggi lawannya. Ia terus mendorong dirinya sendiri berlatih lebih keras dari sebelumnya.
“Selain Porprov, saya pernah ikut Kejurnas di Jogja Superfight tahun lalu. Porprov kemarin dapat perunggu kategori kyorugi under 74,” jelasnya.
Tidak mudah bagi Kamil untuk sampai di titik ini. Apalagi saat ia pernah cedera saat kelas IX SMA yang sempat membuatnya trauma.
“Cedera saya waktu itu pernah di lutut, karena nendang waktu tabrakan, pas latihan. Akhirnya cedera sampai saya trauma buat loncat. Jadi saya ga bisa loncat, kaki ga bisa nekuk dan lain-lain,” ungkapnya.
Perlu 1,5 tahun lamanya untuk melakukan pemulihan. Hampir seluruh daerah di Jawa Timur, ia datangi demi penyembuhan lututnya itu. Mulai dari pijat hingga akupuntur.
“Waktu itu saya sudah mulai pasrahlah. Akhirnya saya direkomendasiin temannya ayah saya, itu di Blitar. Saya coba ternyata kok enak, terapinya tusuk jarum (akupuntur). Selama 4 bulan, saya terapi seminggu sekali,” jelas Kamil.
Taekwondo bukan sekadar olahraga bagi Kamil, tapi juga ruang pembuktian diri dan jalan untuk bangkit dari rasa minder. Perjalanan panjang yang ia lalui menjadi modal mental yang menguatkannya di setiap pertandingan.
Dalam waktu dekat, Kamil berniat ingin kembali ke arena, mengikuti Kejurnas di Jakarta dan Liga Mahasiswa di NTT pada tahun 2026. (adv)
Editor: Intan Refa




