Busana Khas Kota Malang, Identitas Baru atau Sekadar Seremonial?

CITY GUIDE FM, IDJEN TALK – Busana khas daerah Kota Malang yang diluncurkan saat HUT Kota Malang ke-112 berujung polemik di sejumlah kalangan. Fashion Designer Agus Sunandar yang ikut terlibat dalam perancangan busana tersebut menjelaskan proses perancangan telah melalui riset mendalam. Mulai eksplorasi sejarah hingga kajian visual.
“Desain yang dihasilkan merupakan perpaduan antara nilai historis dan kebutuhan masyarakat masa kini,” kata Agus.
Agus menyebut busana ini belum final dan masih terbuka untuk pengembangan. Menurutnya budaya adalah sesuatu yang terus tumbuh sehingga desain juga harus adaptif terhadap masukan publik.
Baca juga:
HUT Kota Malang ke 112, “Ngalam Melintas, Bergerak Tuntas, mBois Berkelas”
“Pro kontra yang muncul justru menjadi energi positif untuk penyempurnaan ke depan. Saya berharap masyarakat turut berkontribusi dalam mengembangkan variasi busana khas Malang agar semakin kaya dan relevan di berbagai kesempatan,” lanjutnya.
Budayawan Dwi Cahyono menambahkan bahwa lahirnya busana khas Kota Malang berlandaskan pada urgensi identitas yang kuat. Bukan sekadar kebutuhan seremonial.
“Malang memiliki sejarah panjang dan posisi strategis yang membuatnya layak memiliki representasi visual yang khas,” kata Dwi.
Menurutnya, desain tidak harus banyak tetapi harus memiliki dasar sejarah yang kuat dan dapat dipertanggungjawabkan. Status Kota Malang sebagai bagian dari jejaring kota kreatif dunia menuntut keberlanjutan peran masyarakat dan pemerintah.
“Identitas ini bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga masyarakat untuk merawat dan menggunakannya dalam kehidupan sehari-hari. Dan berharap busana ini menjadi simbol kebanggaan sekaligus pintu masuk penguatan jati diri Kota Malang ke depan,” pungkasnya. (NURUL FITRIANI)
Simak selengkapnya:




