Blues Spirit Sesi 79: Jangan, Me Too (Bagian 1)
Tidak terasa dua bulan lagi sudah tutup tahun. Dan tentu kita bertanya, apa yang masih harus kita kejar untuk memenuhi target atau membayar janji yang sudah kita tetapkan untuk tahun ini?
Secara personal, kita masing-masing punya langkah sendiri, akan dan harus bagaimana. Tapi sebagai rakyat, pemilik kedaulatan, sebagai warga dalam tatanan sosial yang dipimpin oleh kepala daerah plus aparatnya, misalnya di Malang Raya ini perlu bertanya.
Sudah apa dan akan bagaimana yang dilakukan kepala daerah dan jajarannya itu? Yang bekerja menggunakan uang rakyat untuk mensejahterakan rakyat.
Memang, mereka telah menuangkan janji kampanyenya dulu dalam RPJM, Rencana Pembangunan Jangka Menengah.
Baca juga:
Blues Spirit Sesi 77: Angin Politik untuk Malang Raya
Tapi bagaimana realisasinya? Bagaimana raportnya? Merah atau biru?
Coba cek salah satu saja, misalnya terkait pemenuhan hak ekonomi dan sosial yang prioritasnya memberikan pekerjaan dan penghidupan yang layak. Sederhananya bisa dilihat dari perolehan investasi baru.
Karena, investasi melahirkan lapangan kerja dan peningkatan ekonomi. Lihat Kabupaten Malang, targetnya Rp4,74 triliun. Hasilnya hanya Rp3,35 triliun.
Kota Malang targetnya Rp3,1 triliun, hasilnya hanya Rp1,5 triliun. Yang menarik Kota Batu, dari target Rp1,1 triliun, pada semester 1 lalu sudah berhasil meraup Rp1,6 triliun. Bahkan Oktober ini sudah tembus lebih dari Rp1,8 triliun.
Jangan dibilang karena targetnya rendah. Batu itu hanya 3 kecamatan, dengan penduduknya hanya 219 ribu jiwa.
Bandingkan dengan Kota Malang, 5 kecamatan dengan penduduk 886 ribu jiwa atau 4 kali lipatnya. Apalagi Kabupaten Malang, 33 kecamatan dengan penduduk 2,6 juta jiwa atau 12 kali lipatnya.
Batu memang tampak agresif, tapi relax dan friendly. Kepala daerah dan warganya saya lihat kompak. Ada koperasi yang dibentuk, dikendalikan oleh anak-anak muda asli Batu bernama “Coosae”. Cooperative Smart Agriculture Ecosystem.
Mereka itu merencanakan dan bergerak melakukan penguatan dan pertumbuhan ekosistem untuk perekonomian berbasis kearifan lokal dan pertanian. Andalan pariwisatanya harus berpijak pada kearifan lokal dan pertanian itu. Menarik.
Saya ikut mendengarkan presentasi mereka, ketika mendampingi Pak Dahlan Iskan yang dijamu di rumah dinas pekan lalu. Pak Dahlan ke Malang Raya bersama 26 pengusaha dari berbagai daerah dalam program Harian Disway “Jalan-jalan Tambah Cuan”.
Kepada tim Coosae, tentu dengan aparat pemerintahnya, saya jadi menaruh harapan lebih supaya mereka ikut turun menyaksikan, memberi masukan dan membantu jalannya usaha atas investasi baru di Batu. Supaya tumbuh jadi kekuatan baru, menambah icon baru.
Ada studi kasus yang bisa kita bedah dan berikan masukan yaitu obyek baru wisata dusun kuliner. Akankah dia juga “me too”, hanya jadi seperti yang sudah ada?
Sampai ketemu di Blues Spirit Sesi 80 nanti




